Bag. 2
Pagi kian menjelma, namun fajar sungkan untuk menyapa. Tubuhku sudah meronta untuk bangun namun kedua mataku masih sulit untuk terbuka. Aku merasakan sebuah rasa sakit yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sakit yang benar benar sakittt sekali. Aku mendesah, menahan perih hingga kedua mataku terbuka cukup lebar. Gorden berwarna gold dan sebuah televisi berukuran 40 inci tersenyum simpul kearahku. Jendela bagian atas yang sedikit terbuka, membuat gorden itu berkelebat kelebat terterpa angin.
“Hahhhhh“
Aku terperanjat saat menyadari aku sedang berada di sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Aku syok mendapati semua pakaianku berserakan diatas lantai. Jantungku berdegup kencang. Aku melirik kearah samping kiriku dan melihat Andrew masih tertidur dengan pulasnya. Aku langsung menangis sejadinya. Lalu menarik pria brengsek itu hingga terbangun dari tidurnya.
“Bangsaaaattttttttt! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitanku semalam” tangisku pecah di depan pria itu.
Dia tersenyum penuh kepuasan kearahku. “Apa kau masih mau jual mahal padaku setelah hari ini Chika cantik?”
Aku tak dapat berkata apa apa lagi. Aku merasa hidupku hilang tertelan bumi. Sungguh sakitttt benar benar sakittt sekali. Apa yang aku pertahankan selama ini telah terenggut oleh pria yang sama sekali tak aku cintai. Bahkan mengenalnya saja, aku tidak. Aku menangis di tepi ranjang berselimut kain putih yang kugenggam erat. Sungkan rasanya untuk turun apalagi keluar untuk bertemu dengan banyak orang. Harga diriku telah hilang. Kehormatanku runtuh ke dasar jurang.
Sepulang dari hotel itu aku langsung mengguyur tubuhku dengan penuh rasa sesal. Aku kembali membuncahkan tangisku di sana. Bertarung, berhelat dengan gemercik air yang menyiram tubuhku. Ingin kusudahi usiaku saat itu juga, namun dendamku semakin berkobar setelah kejadian itu. Dendam yang awalnya hanya aku rasakan pada Mamahku, kini merambat kepada pria brengsek itu juga.
Namun, ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Itu yang kurasakan dalam beberapa hari setelahnya. Andrew, mengirim video menjijikkan itu ke nomor ponselku. Aku terkejut bukan main. Dia memintaku untuk melayani nafsunya setiap malam, atau jika aku menolak, video itu akan ia sebarkan ke seluruh medsos yang ia pegang.
“kenapa dunia begitu buruk kurasakan? kenapa hidup tak pernah adil untukku?” teriakku, mencengkeram rambut panjangku dengan kedua tanganku sendiri.Isak tangisku semakin menggelegar di kamar kost yang hampir tiga tahun aku tempati. Dengan penuh keterpaksaan, bahkan sebenarnya aku ingin memilih mati saja daripada harus menjadi budak pria itu. Namun entah, aku seperti orang linglung yang hanya manut saja bila di perintah olehnya. Mataku yang bening selalu berkobar kobar setelah kejadian itu. Kecantikanku yang mereka bilang mengalahkan puteri Indonesia sudah mulai pucat dalam beberapa hari terakhir ini. Aku depresi, aku stress, aku putus asa.
“Kau jangan khawatir Chika sayang, aku akan bertanggungjawab jika kau hamil “
“Ya, dan jika aku tidak hamil, apakah aku harus menjadi budakmu seumur hidupku?“ jawabku, setiap kali menghabiskan malam mengerikan dengan pria brengsek itu.
Aku lemah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hingga pada suatu pagi di mana aku masih berada di kamar neraka itu. Aku tersentak bangun saat pintu di gedor dari luar dengan keras sekali. Andrew panik dan langsung menyuruhku untuk bersembunyi. Sedang aku tak merasa takut sedikitpun saat itu. Aku berharap tamu tak diundang itu adalah istrinya, hingga aku bisa terlepas dari jeratan terkutuk yang membelenggu kedua kaki dan tanganku, terutama batinku yang terasa sakit teramat sangat.
Aku bersembunyi di kamar mandi, kudengar suara pintu terbuka oleh Andrew. Dan benar, tamu itu adalah istrinya sendiri. Mungkin ia curiga karena Andrew tak pernah pulang belakangan ini. Jelas saja, karna dia sudah menyandraku di dalam kandangnya setiap malam.
“Kau? Darimana kau tahu aku disini?” suara Andrew menggema ditelingaku.
“Diam kau! Kurang apa aku selama ini padamu? Harta yang kumiliki kaupun ikut
memakannya dan sekarang kau mengkhianati aku dengan perempuan lain. Dimana dia? Suruh perempuan jalang itu keluar!“
Hatiku terasa pedih sekali. Bukan karna kemarahan wanita itu, melainkan karna suaranya yang tak asing di telingaku. Aku terduduk lesu dengan bulir bulir airmata yang mulai berjatuhan di kedua pipiku. Suara itu, yang dulu memanjakkan aku dengan kasih sayang dan cinta yang sangat besar. Suara itu, yang dulu membacakan dongeng dongeng saat aku hendak tidur. Namun kini suara itu menamparku dengan ucapan ‘perempuan jalang‘.
Hatiku sakit sekali. Bola mataku yang sembab tiba tiba kembali memerah darah. Dendam dihatiku semakin menjulang tinggi bak puncak mount everest. Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Kulangkahkan kakiku keluar untuk menantang wanita itu.
“Aku disini nyonya yang terhormat, apa yang ingin anda lakukan padaku?” Ucapku tanpa rasa takut sedikitpun.
Wanita itu tersentak setengah mati hingga mulutnya yang tadi mengatup langsung terbuka lebar. Sedangkan Andrew melayangkan tatapan murka ke arahku. Aku mendekati wanita itu dengan keadaanku yang amburadul, tak setetes airmatapun aku keluarkan saat itu. Wajahku benar benar menampakkan kebencian yang mendalam.
“Kenapa anda terdiam nyonya? Bukankah tadi anda ngotot sekali ingin bertemu denganku?”
Wanita itu masih terdiam tak percaya.
“Apa anda ingin membunuhku disini? Ayo lakukan! Aku tidak takut!“
Wanita itu masih tak berkutik sedikitpun. Mulutnya terbius oleh suasana. Ada cairan bening yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. Aku melihat ia berusaha menyeka cairan itu untuk menutupi rasa malunya di depanku.
“Kenapa anda diam? O.. apa anda tak mengira suami anda yang muda dan tampan ini sudah berserong dengan perempuan yang lebih muda dan cantik dari anda?”
Wanita itu menatapku tajam. Seketika airmatanya buncah dan berlutut di depanku.
“Maafkan Mama Chika..... maafkan Mama....... .”
Kata kata yang sejak beberapa tahu lalu aku tunggu akhirnya keluar dari mulut wanita itu. Ya, wanita yang mengatakan bahwa aku ‘perempuan jalang‘ adalah Mamahku sendiri. Orang yang sudah melahirkan aku 21 tahun yang lalu. Dan Andrew, aku baru sadar bahwa dia adalah suami dari Mamahku. Aku baru ingat bahwa aku pernah melihat mobilnya saat Mamah hendak memperkenalkan dia denganku satu bulan setelah pernikahan mereka. Namun aku menolak hingga pergi dari rumah dan memilih tinggal dengan almarhum Papahku.
Airmata Mamah buncah di atas kakiku. Tak sedikitpun aku menolehnya. Aku justru menahan sesak di dadaku karna ternyata pria bangsat yang sudah menjadikan aku sebagai budaknya tak lain adalah ayah tiriku sendiri. Hatiku semakin pecah berkeping keping, dan berserakan menancap tiap pembuluh darah di tubuhku. aku lihat Andrew tertunduk malu hingga ia mencengkeram kepalanya sendiri. Ia memang tahu kalau Mamah memiliki seorang putri, namun kami belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya.
“Apa anda masih mau membela suami anda ini nyonya? Suami, yang anda banggakan hingga tega mengabaikan buah hati yang lahir dari rahim anda sendiri! Suami, yang sudah merenggut kehormatan putri anda! Dan suami, yang sudah menjadikan putri anda sebagai budaknya setiap malam, apa anda bangga memiliki suami seperti itu? Jawab aku nyonya yang terhormat!“
“Cukup Chika, cukupppp! Mamah tidak mau mendengarnya lagi. Maafkan Mamah sayaaaang..... .”
Kakiku semakin basah dengan airmata wanita itu. Namun airmataku belum keluar setetes pun di depannya. Aku mematung cukup lama. Sedang wanita itu bangkit dan menyekik leher Andrew dengan segala kekecewaan dan kemarahan yang menyelimuti jiwanya.
“Dasar lelaki brengsekkkkk! Kau sudah merenggut kehormatan putriku yang tak lain putri tirimu sendiri. Akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri Andrew!“
Aku menonton perseteruan ini dengan penuh kepuasan. Entahlah, seakan dendamku sedikit terbalaskan dengan melihat rasa sakit yang Mamah rasakan saat itu. Badan Andrew yang besar mendorong Mamah hingga tersungkur ke sudut kamar, hingga menabrak sebuah guci besar dan pecah berkeping keping. Aku langsung mengambil tasku dan meninggalkan mereka dengan cepat.
***
To be continue..Page 3
( Bagi yang berminat untuk mengoleksi bukunya, bisa hubungi aku di
Facebook : Iin Indrayani, yang ada di Indonesia atau juga di Taiwan )
Untuk tanya - tanya harga buku dan koleksi buku novel lainnya, tinggal hubungi langsung ya .... !!!
Salah satu koleksi buku :
- Telaga Hati Shifana : Rp.55.000,-
- Relentless Love : Rp.70.000,-
Untuk kembali membaca ;
Klik Page I
Pagi kian menjelma, namun fajar sungkan untuk menyapa. Tubuhku sudah meronta untuk bangun namun kedua mataku masih sulit untuk terbuka. Aku merasakan sebuah rasa sakit yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Sakit yang benar benar sakittt sekali. Aku mendesah, menahan perih hingga kedua mataku terbuka cukup lebar. Gorden berwarna gold dan sebuah televisi berukuran 40 inci tersenyum simpul kearahku. Jendela bagian atas yang sedikit terbuka, membuat gorden itu berkelebat kelebat terterpa angin.
“Hahhhhh“
Aku terperanjat saat menyadari aku sedang berada di sebuah kamar hotel yang cukup mewah. Aku syok mendapati semua pakaianku berserakan diatas lantai. Jantungku berdegup kencang. Aku melirik kearah samping kiriku dan melihat Andrew masih tertidur dengan pulasnya. Aku langsung menangis sejadinya. Lalu menarik pria brengsek itu hingga terbangun dari tidurnya.
“Bangsaaaattttttttt! Kau mengambil kesempatan dalam kesempitanku semalam” tangisku pecah di depan pria itu.
Dia tersenyum penuh kepuasan kearahku. “Apa kau masih mau jual mahal padaku setelah hari ini Chika cantik?”
Aku tak dapat berkata apa apa lagi. Aku merasa hidupku hilang tertelan bumi. Sungguh sakitttt benar benar sakittt sekali. Apa yang aku pertahankan selama ini telah terenggut oleh pria yang sama sekali tak aku cintai. Bahkan mengenalnya saja, aku tidak. Aku menangis di tepi ranjang berselimut kain putih yang kugenggam erat. Sungkan rasanya untuk turun apalagi keluar untuk bertemu dengan banyak orang. Harga diriku telah hilang. Kehormatanku runtuh ke dasar jurang.
Sepulang dari hotel itu aku langsung mengguyur tubuhku dengan penuh rasa sesal. Aku kembali membuncahkan tangisku di sana. Bertarung, berhelat dengan gemercik air yang menyiram tubuhku. Ingin kusudahi usiaku saat itu juga, namun dendamku semakin berkobar setelah kejadian itu. Dendam yang awalnya hanya aku rasakan pada Mamahku, kini merambat kepada pria brengsek itu juga.
Namun, ‘sudah jatuh tertimpa tangga’. Itu yang kurasakan dalam beberapa hari setelahnya. Andrew, mengirim video menjijikkan itu ke nomor ponselku. Aku terkejut bukan main. Dia memintaku untuk melayani nafsunya setiap malam, atau jika aku menolak, video itu akan ia sebarkan ke seluruh medsos yang ia pegang.
“kenapa dunia begitu buruk kurasakan? kenapa hidup tak pernah adil untukku?” teriakku, mencengkeram rambut panjangku dengan kedua tanganku sendiri.Isak tangisku semakin menggelegar di kamar kost yang hampir tiga tahun aku tempati. Dengan penuh keterpaksaan, bahkan sebenarnya aku ingin memilih mati saja daripada harus menjadi budak pria itu. Namun entah, aku seperti orang linglung yang hanya manut saja bila di perintah olehnya. Mataku yang bening selalu berkobar kobar setelah kejadian itu. Kecantikanku yang mereka bilang mengalahkan puteri Indonesia sudah mulai pucat dalam beberapa hari terakhir ini. Aku depresi, aku stress, aku putus asa.
“Kau jangan khawatir Chika sayang, aku akan bertanggungjawab jika kau hamil “
“Ya, dan jika aku tidak hamil, apakah aku harus menjadi budakmu seumur hidupku?“ jawabku, setiap kali menghabiskan malam mengerikan dengan pria brengsek itu.
Aku lemah, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Hingga pada suatu pagi di mana aku masih berada di kamar neraka itu. Aku tersentak bangun saat pintu di gedor dari luar dengan keras sekali. Andrew panik dan langsung menyuruhku untuk bersembunyi. Sedang aku tak merasa takut sedikitpun saat itu. Aku berharap tamu tak diundang itu adalah istrinya, hingga aku bisa terlepas dari jeratan terkutuk yang membelenggu kedua kaki dan tanganku, terutama batinku yang terasa sakit teramat sangat.
Aku bersembunyi di kamar mandi, kudengar suara pintu terbuka oleh Andrew. Dan benar, tamu itu adalah istrinya sendiri. Mungkin ia curiga karena Andrew tak pernah pulang belakangan ini. Jelas saja, karna dia sudah menyandraku di dalam kandangnya setiap malam.
“Kau? Darimana kau tahu aku disini?” suara Andrew menggema ditelingaku.
“Diam kau! Kurang apa aku selama ini padamu? Harta yang kumiliki kaupun ikut
memakannya dan sekarang kau mengkhianati aku dengan perempuan lain. Dimana dia? Suruh perempuan jalang itu keluar!“
Hatiku terasa pedih sekali. Bukan karna kemarahan wanita itu, melainkan karna suaranya yang tak asing di telingaku. Aku terduduk lesu dengan bulir bulir airmata yang mulai berjatuhan di kedua pipiku. Suara itu, yang dulu memanjakkan aku dengan kasih sayang dan cinta yang sangat besar. Suara itu, yang dulu membacakan dongeng dongeng saat aku hendak tidur. Namun kini suara itu menamparku dengan ucapan ‘perempuan jalang‘.
Hatiku sakit sekali. Bola mataku yang sembab tiba tiba kembali memerah darah. Dendam dihatiku semakin menjulang tinggi bak puncak mount everest. Aku tak bisa menahan emosiku lagi. Kulangkahkan kakiku keluar untuk menantang wanita itu.
“Aku disini nyonya yang terhormat, apa yang ingin anda lakukan padaku?” Ucapku tanpa rasa takut sedikitpun.
Wanita itu tersentak setengah mati hingga mulutnya yang tadi mengatup langsung terbuka lebar. Sedangkan Andrew melayangkan tatapan murka ke arahku. Aku mendekati wanita itu dengan keadaanku yang amburadul, tak setetes airmatapun aku keluarkan saat itu. Wajahku benar benar menampakkan kebencian yang mendalam.
“Kenapa anda terdiam nyonya? Bukankah tadi anda ngotot sekali ingin bertemu denganku?”
Wanita itu masih terdiam tak percaya.
“Apa anda ingin membunuhku disini? Ayo lakukan! Aku tidak takut!“
Wanita itu masih tak berkutik sedikitpun. Mulutnya terbius oleh suasana. Ada cairan bening yang hendak jatuh dari pelupuk matanya. Aku melihat ia berusaha menyeka cairan itu untuk menutupi rasa malunya di depanku.
“Kenapa anda diam? O.. apa anda tak mengira suami anda yang muda dan tampan ini sudah berserong dengan perempuan yang lebih muda dan cantik dari anda?”
Wanita itu menatapku tajam. Seketika airmatanya buncah dan berlutut di depanku.
“Maafkan Mama Chika..... maafkan Mama....... .”
Kata kata yang sejak beberapa tahu lalu aku tunggu akhirnya keluar dari mulut wanita itu. Ya, wanita yang mengatakan bahwa aku ‘perempuan jalang‘ adalah Mamahku sendiri. Orang yang sudah melahirkan aku 21 tahun yang lalu. Dan Andrew, aku baru sadar bahwa dia adalah suami dari Mamahku. Aku baru ingat bahwa aku pernah melihat mobilnya saat Mamah hendak memperkenalkan dia denganku satu bulan setelah pernikahan mereka. Namun aku menolak hingga pergi dari rumah dan memilih tinggal dengan almarhum Papahku.
Airmata Mamah buncah di atas kakiku. Tak sedikitpun aku menolehnya. Aku justru menahan sesak di dadaku karna ternyata pria bangsat yang sudah menjadikan aku sebagai budaknya tak lain adalah ayah tiriku sendiri. Hatiku semakin pecah berkeping keping, dan berserakan menancap tiap pembuluh darah di tubuhku. aku lihat Andrew tertunduk malu hingga ia mencengkeram kepalanya sendiri. Ia memang tahu kalau Mamah memiliki seorang putri, namun kami belum pernah bertemu satu sama lain sebelumnya.
“Apa anda masih mau membela suami anda ini nyonya? Suami, yang anda banggakan hingga tega mengabaikan buah hati yang lahir dari rahim anda sendiri! Suami, yang sudah merenggut kehormatan putri anda! Dan suami, yang sudah menjadikan putri anda sebagai budaknya setiap malam, apa anda bangga memiliki suami seperti itu? Jawab aku nyonya yang terhormat!“
“Cukup Chika, cukupppp! Mamah tidak mau mendengarnya lagi. Maafkan Mamah sayaaaang..... .”
Kakiku semakin basah dengan airmata wanita itu. Namun airmataku belum keluar setetes pun di depannya. Aku mematung cukup lama. Sedang wanita itu bangkit dan menyekik leher Andrew dengan segala kekecewaan dan kemarahan yang menyelimuti jiwanya.
“Dasar lelaki brengsekkkkk! Kau sudah merenggut kehormatan putriku yang tak lain putri tirimu sendiri. Akan aku bunuh kau dengan tanganku sendiri Andrew!“
Aku menonton perseteruan ini dengan penuh kepuasan. Entahlah, seakan dendamku sedikit terbalaskan dengan melihat rasa sakit yang Mamah rasakan saat itu. Badan Andrew yang besar mendorong Mamah hingga tersungkur ke sudut kamar, hingga menabrak sebuah guci besar dan pecah berkeping keping. Aku langsung mengambil tasku dan meninggalkan mereka dengan cepat.
***
To be continue..Page 3
( Bagi yang berminat untuk mengoleksi bukunya, bisa hubungi aku di
Facebook : Iin Indrayani, yang ada di Indonesia atau juga di Taiwan )
Untuk tanya - tanya harga buku dan koleksi buku novel lainnya, tinggal hubungi langsung ya .... !!!
Salah satu koleksi buku :
- Telaga Hati Shifana : Rp.55.000,-
- Relentless Love : Rp.70.000,-
Untuk kembali membaca ;
Klik Page I
Mohon maaf bila ada salah kata atau ucapan dalam penulisan kami ......
Untuk melihat puisi - puisi lainnya silahkan klik DI SINI
Untuk membaca cerita atau cerpen silahkan klik DI SINI
Untuk download Software,Game,atau Video tingggal klik DI SINI
Bagi yang suka baca berita seputar Indramayu silahkan klik DI SINI
Untuk yang suka membaca Novel DI SINI
Terima Kasih sudah mengunjngi Blog kami TBM LENTERA HATI
Kami tunggu Kritik dan Sarannya !!!
**
Untuk teman teman yang mempunyai cerpen, puisi, novel, dan lainnya juka ingin di publish di sini silahkan kirim file nya ke email : tbm.lenterahati@gmail.com
